Awal Tahun 2020, Krakatau Steel Tuntaskan Restrukturisasi Utang Hingga USD2,2 Miliar

Awal Tahun 2020, Krakatau Steel Tuntaskan Restrukturisasi Utang Hingga USD2,2 Miliar
Public Expose PT Krakatau Steel di Kementerian BUMN

PT Krakatau Steel menjadikan restrukturisasi utang menjadi agenda penting dalam dua tahun belakangan. Tepatnya tanggal 12 Januari 2020 lalu, kesepakatan restrukturisasi telah selesai ditandatangani oleh seluruh kreditur.

"Tekanan terhadap financial Krakatau Steel itu cukup berat, ketika saya join di akhir 2018 saya diminta 2 hal, yang pertama adalah restrukturisasi. Dukungan untuk restrukturisasi utang dan satu lagi adalah kaitan dengan regulasi," ungkap Direktur Utama Krakatau Steel, Silmy Karim pada saat menghadiri Public Expose Krakatau Steel pada 28 Januari 2020 di Jakarta.

Nilai resktrukturisasi yang dimulai dari 20 Desember 2018 tersebut memang tidak main-main. Silmy menyebut nilai ini kemungkinan adalah restrukturisasi terbesar di Indonesia.

"Memang tidak mudah, ini adalah restrukturisasi utang yang mungkin terbesar yaitu sekitar 2,2 miliar dolar Amerika," tambah Silmy.

Proyek restrukturisasi ini berlangsung selama 9 tahun yakni dari 2019 hingga 2027. Maka, dengan adanya restrukturisasi tersebut, penghematan yang signifikan dapat dilakukan.

Penghematan yang dilakukan selama 9 tahun tersebut adalah beban bunga berhasil diturunkan dari 840 juta dolar Amerika menjadi 466 juta dolar Amerika. Sementara dari sisi operasi, perseroan juga berhasil melakukan efisiensi sehingga terjadi penurunan biaya.

"Jadi kalau kita bandingkan 2018 operasional atau opex (operational expenses) satu bulan sekitar 33 juta dolar Amerika per bulan, maka di bulan Januari ini kita bisa turunkan sampai 19 juta dolar Amerika. Dan ini sebagai basis untuk langkah dari krakatau steel ke depan," terang Silmy.

Selain restrukturisasi, upaya untuk meningkatkan performa Krakatau juga dilakukan dengan mendorong agar dilakukan dukungan kebijakan regulasi impor baja. Impor baja saat ini sudah sangat menghantam industri baja nasional dari hulu hingga hilir. Jika kondisi ini diteruskan, Indonesia akan menjadi negara pengguna setia baja impor.

Baca juga: Krakatau Bandar Samudera Tambah 2 Dermaga Baru, Pelabuhan Cigading kini Berkapasitas 25 Juta Ton