Ario Bimo, Direktur Milenial Pertama BNI dan Kancah Milenial di BUMN

Ario Bimo, Direktur Milenial Pertama BNI dan Kancah Milenial di BUMN
General Manager BNI Tokyo, Ario Bimo (kanan). Sumber: bni.co.id

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akhir bulan Agustus lalu melakukan perombakan susunan pengurus PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dalam agenda Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Posisi Direktur Utama BNI tidak berubah dan tetap dijabat oleh Ahmad Baiquni. Namun untuk posisi Direktur Keuangan, Rini Soemarno mengangkat Ario Bimo sebagai Direktur Keuangan menggantikan Catur Budi Harto. Dengan diangkatnya Ario Bimo sebagai Direktur Keuangan, Ario disebut menjadi Direktur termuda pertama dalam jajaran Direksi BNI. 

Corporate Secretary BNI, Melly Meiliana menyampaikan bahwa pengangkatan Ario Bimo sebagai salah satu direksi adalah karena BNI membutuhkan agility dalam perkembangan perusahaan terutama dalam pengambilan keputusan sehingga dapat menjawab tuntutan bisnis. Selain itu, Ario dinilai memiliki sejumlah prestasi cemerlang yang membawa nama harum BNI. Sebelumnya Ario menjabat sebagai General Manager di BNI Cabang Tokyo yang berada dalam Divisi Internasional BNI dan sempat memegang posisi Wakil Pemimpin Divisi BUMN & Institusi Pemerintah BNI. Bekerja di Divisi BUMN dan Pemerintahan memperkenalkan Ario dengan Rini Soemarno dan memiliki hubungan baik dengan kolega-kolega kementerian.

Baca Juga: Ini Hasil RUPSLB BNI 2019


RUPSLB BNI 2019/Sumber: BNI


Capaian Prestasi
Menjabat sebagai General Manager BNI Cabang Tokyo selama setahun, Ario Bimo sempat menorehkan sejumlah prestasi yang membuatnya banyak mendapat apresiasi. Pertama, Ario telah meningkatkan license BNI Osaka sehingga tidak hanya berfungsi sebagai marketing office tetapi nasabah juga dapat membuka tabungan di sana. Kedua, meningkatkan aset BNI Tokyo sebesar 45% yaitu sebesar US$868 juta atau setara Rp12,15 triliun (kurs Rp14.000) per Agustus 2019.

Salah satu faktor kesuksesan pertumbuhan tersebut ialah pada bulan Juni lalu BNI menggandeng perusahaan Global Unidos Co Ltd  atau Kyodai Remittance untuk terus meningkatkan volume remitansi BNI dari Jepang ke Indonesia. Terlebih untuk memfasilitasi Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Jepang, yang pada saat ini terdapat sekitar 45.000 Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di Jepang.

Menurut Direktur Bisnis Tresuri dan Internasional BNI,  Rico Rizal Budidarmo, volume bisnis remitansi BNI dari PMI mengalami pertumbuhan 29,61% dari tahun sebelumnya. Sementara khusus pada bulan Ramadhan pertumbuhannya melonjak 58,73%.

Ketiga, BNI Tokyo sukses menyalurkan kredit sebesar US$481 juta atau tumbuh 32,5% dengan catatan NPL 0% sehingga memiliki rating "Excellent" di antara bank-bank asing lain yang beroperasi di Jepang. Pengucuran kredit ditargetkan untuk pembiayaan bisnis ekspor impor ataupun pengusaha yang memiliki operasional bisnis di Jepang.

Baca Juga: BNI Rangkul Kyodai Remittance Tingkatkan Volume Remitansi

Kancah Milenial sebagai Pemimpin BUMN
Ario Bimo bukanlah direktur muda pertama yang menduduki jabatan tinggi pada perusahaan BUMN. Sebelumnya sudah ada beberapa nama seperti Laily Prihatiningtyas, Direktur Utama PT Taman Wisata Candi (TWC) yang saat dilantik umurnya kala itu masih 28 tahun. Ada pula Dimas Pramudhito, Direktur Keuangan di PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang berumur 34 tahun saat dilantik.

Rini menuturkan ada beberapa syarat yang harus terpenuhi apabila menginginkan posisi jabatan di perusahaan BUMN naungannya. Pertama, memiliki kecintaan terhadap negara dan tanah air Indonesia. Kedua, mempunyai hati nurani untuk mengabdi kepada masyarakat yang sesuai dengan tugas dasar BUMN yaitu melayani masyarakat Indonesia dengan sepenuh hati. Terakhir, memiliki  governance dan comply kepada segala tata aturan. Sebelumnya menteri BUMN, Dahlan Iskan, juga menggencarkan adanya kaum Milenial yang menduduki kursi direksi BUMN. Dahlan-lah sosok di belakang pengangkatan Laily Prihatiningtyas. Ia berharap bahwa kehadiran kaum muda atau Milenial dapat mendorong munculnya ide-ide yang lebih kreatif dan inovatif mengingat adanya fakta bahwa beberapa BUMN sulit maju dikarenakan direksi yang mayoritas diisi oleh orang tua yang sulit mengambil keputusan cepat serta tidak sigap melihat keadaan pasar. 

Baca Juga: Work with Millennials, Apa Bedanya dengan Generasi Lainnya?