Arifin Tasrif: Berkiprah di Pupuk, Berlabuh di ESDM

Arifin Tasrif: Berkiprah di Pupuk, Berlabuh di ESDM
MESDM Arifin Tasrif memberikan sambutan ketika serah terima jabatan dengan MESDM Kabinet Kerja, Ignasius Jonan. (Foto: Courtesy/Kementerian ESDM)

Siang itu suhu udara di ibu kota sungguh terik, mencapai 38 derajat celcius. Namun sengatan matahari yang tak kenal ampun itu tak menyurutkan senyum di wajah Arifin Tasrif. Presiden Joko Widodo baru saja mendapuk pria jebolan Institut Teknologi Bandung itu menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Suatu sektor teknis yang pernah menjadi primadona di Indonesia, namun kini menghadapi sejumlah masalah yang membuat produksi migas anjlok. 

Isu terpilihnya ia menjadi MESDM memang sudah berhembus kencang di kalangan wartawan beberapa hari menjelang pengumuman Kabinet Indonesia Maju pada Rabu, 23 Oktober 2019. Meski Arifin mengaku baru mengetahui posisinya pada Rabu pagi itu.

"Saya menerima penunjukan ini sudah seminggu yang lalu, tapi hanya diberikan kabar disuruh ke Jakarta. Lalu tadi pagi baru dikasih tau kementerian yang ditugaskan," kata Arifin saat memberikan sambutan dalam Serah Terima Jabatan Menteri ESDM di Kementerian ESDM.

Jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju. (Foto: Courtesy/Kementerian ESDM)

Sebenarnya tak mengherankan jika Jokowi menjatuhkan pilihan ke Arifin untuk mengurusi masalah energi. Pasalnya latar belakang Arifin memang masih berkaitan erat dengan sektor energi.Posisinya sebagai orang nomor satu di industri pupuk sekaligus Duta Besar RI untuk Jepang, membuat industri migas bukan barang baru baginya.

Arifin Tasrif lahir di Jakarta pada 19 Juni 1953. Ia bagaikan "kutu loncat", yang hinggap dari satu BUMN ke BUMN lain. Kariernya berjalan mulus bak jalan tol. Dikutip dari Harian Republika terbitan 2010, Arifin mengawali kariernya sebagai staf Operation Research System Analyst Pertamina pada tahun 1978. Hanya bertahan setahun, Arifin pindah ke PT Unilever Indonesia sebagai staf pemasaran dari 1978-1979. Tak betah berlama-lama, ia kembali loncat ke PT Pupuk Kalimantan Timur sebagai staf Teknik. Kali ini Arifin mampu bertahan selama enam belas tahun, dari 1979-1995.

Karier Arifin terus melesat, hingga berhasil menduduki jabatan sebagai Direktur Bisnis di PT Rekayasa Industri selama enam tahun, sejak 1995-2001. Di perusahaan ini, Arifin juga didapuk menjadi Ketua Tim Privatisasi Rekind. Dianggap kinerjanya cemerlang, kariernya berlabuh di posisi puncak PT Petrokimia Gresik dengan menjadi Direktur Utama mulai 2001-2010. 

Menteri ESDM Arifin Tasrif ketika memimpin Upacara Sumpah Pemuda di Kementerian ESDM, (Foto: Courtesy/Kementerian ESDM)

Rekind sendiri merupakan anak perusahaan PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri). Selain membawahi Rekind, Pusri juga merupakan perusahaan induk dari beberapa perusahaan lainnya, seperti PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT), PT Petrokimia Gresik (PKG), PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) dan PT Pupuk Kujang. 

Tak berhenti di PKG, Arifin malah makin melebarkan sayapnya PT Pupuk Sriwidjaya dengan dipercaya menjadi Direktur Utama sejak Agustus 2010-November 2015.  Di bawah kepemimpinannya, Pusri berganti nama menjadi PT Pupuk Indonesia sebagai holding company BUMN pupuk pada tahun 2012. 

Pada saat itu, pemerintah melakukan holdingisasi dengan membentuk induk usaha yang membawahi sejumlah perusahaan. PHIC sendiri merupakan induk dari lima perusahaan pupuk pelat merah lainnya yaitu PT Pusri Palembang, PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT), PT Petrokimia Gresik, PT Pupuk Kujang,dan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM). Bisa dikatakan Arifin adalah arsitek dari pembentukan holding BUMN pupuk tersebut.

"Nah, waktu saya diangkat menjadi Dirut Pusri, empat bulan lalu, saya ditargetkan untuk merampungkannya (holding). Kegiatan sosialisasi holding kan sudah, bisa dikatakan kita mengebut, jadi pada awal 2011 bisa mulai berjalan," ujar Arifin dalam wawancara kepada Harian Republika yang dimuat pada 13 Desember 2010.

Adanya holding perusahaan pupuk itu, kata Arifin, diharapkan akan meningkatkan nilai aset dan laba bisnis BUMN pupuk di Indonesia. 

Hal ini dibuktikan Arifin dengan sejumlah pencapaian. Pada tahun 2013, Pupuk Indonesia tercatat memiliki aset senilai Rp64,805 triliun dengan ekuitas mencapai Rp25,315 triliun. Sementara laba bersih perusahaan mencapai Rp3,743 triliun dan pendapatan sebesar Rp56,32 triliun. Kinerja perusahaan berhasil meraih angka biru di tahun 2014 dengan mengalami kenaikan pendapatan yang menyentuh angka Rp64,62 trillun dengan laba Rp5,35 triliun di tahun 2014. Pada tahun itu pula, Arifin mendapat pujian Menneg BUMN Dahlan Iskan atas aksi bisnisnya dalam mengakuisisi PT Kaltim Pasific Amonia milik perusahaan Jepang, Mitsui. 

Namun roda tak selamanya ada di atas. Meski dinobatkan sebagai produsen pupuk terbesar di Asia dengan total kapasitas produksi pupuk mencapai 12,6 juta ton per tahun, kinerja keuangan PT Pupuk Indonesia pada tahun 2015 meredup. Laba bersih perusahaan tergerus ke angka Rp3,4 triliun akibat sejumlah faktor, seperti pelemahan kurs Rupiah terhadap US Dollar, jatuhnya harga komoditi urea di pasar internasional, dan fenomena El Nino yang mempengaruhi musim tanam sehingga berimbas ke industi pupuk. Namun di sisi lain, aset perusahaan naik mencapai Rp93,13 triliun dengan pendapatan Rp66,22 trilun. 

Langkah Arifin di industri pupuk harus terhenti. November 2015, pemerintah menunjuk direktur utama yang baru di PT Pupuk Indonesia untuk menggantikan dirinya.

Arifin Tasrif ketika masih menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Jepang. Ia tengah menyambut kedatangan Wakil Presiden Ma'ruf Amin di Bandara Narita. (Foto: Courtest/KBRI Tokyo)

Berhenti sampai di situkah karier Arifin? Tentu tidak. Presiden Jokowi menunjuk Arifin menjadi Duta Besar untuk Jepang pada Mei 2017. Hubungan Indonesia dengan Jepang memang sangat erat, terutama yang terkait dengan industri migas. Jepang adalah salah satu pengimpor LNG terbesar dari Indonesia. Sejarah  juga mencatat, Negara Matahari Terbit itu pula lah yang menjadi konsumen LNG pertama Indonesia. Tak hanya itu, di kala Arifin masih menjadi Duta Besar di Jepang, ia juga turut menyaksikan penandatanganan head of agreement antara SKK Migas dan perusahaan Jepang, Inpex, dalam pengelolaan Blok Masela. Padahal diskusi mengenai bisnis ladang LNG tersebut telah tersendat sekian lama. 

Kini dengan jabatan barunya, Arifin memiliki tantangan dan sejumlah PR di sektor migas yang harus diselesaikan. Salah satunya, hambatan untuk berinvestasi di sektor hulu akibat sejumlah kebijakan yang dianggap tidak pro investor. 

Sementara di sektor hilir, pekerjaan yang harus diselesaikan Arifin adalah memastikan pembangunan kilang-kilang minyak Pertamina dapat dijalankan sesuai dengan rencana. Jika tidak jalan, siap-siap saja Indonesia tetap mengimpor minyak mentah dan BBM untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Nah sederet PR itu bukan barang mudah, penuh risiko dan tantangan. Namun dengan perjalanan panjang seorang Arifin Tasrif, bukan tak mungkin seluruh hambatan itu akan menjadi mulus seperti kariernya. Persis seperti yang diucapkan Kaisar Alexander Agung, "There is nothing impossible to him who will try." 

Profil Arifin Tasrif:

  • Nama Lengkap: Arifin Tasrif
  • Tempat, Tanggal Lahir: Jakarta, 19 Juni 1953
  • Pendidikan: SD St Fransiskus Jakarta, SMP Kanisius, SMA Yayasan Pendidikan Harapan Medan, Sarjana Teknik Kimia ITB
  • Karier: 
    - Staff Operation Research System Analyst Divisi Advanced Technology Pertamina (1978)
    - Marketing Staff Industrial -Detergent Trade- Unilever Indonesia (1978 – 1979)
    - Staff Teknik PT Pupuk Kalimantan Timur (1979-1995)
    - Direktur Usaha PT Rekayasa Industri (1995-2001)
  • Direktur Utama PT Petrokimia Gresik (2001-2010)
  • Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja (2010-2015)
  • Duta Besar RI untuk Jepang (2017-Oktober 2019)
  • Penghargaan: Honorary Fellowship Award dari AFEO (ASEAN Federation of Engineering Organization) 2011