Antara Pertamina, Avtur dan Harga Tiket Pesawat Domestik

Antara Pertamina, Avtur dan Harga Tiket Pesawat Domestik
Suasana Bandara Soekarno Hatta (Anita-Upperline)

Industri aviasi nasional sedang mengalami turbulensi hebat. Kali ini bukan karena keadaan cuaca, tapi karena mahalnya harga tiket penerbangan domestik. Belum lagi adanya kebijakan bagasi berbayar yang diterapkan maskapai murah, seperti Lion Air, turut memangkas minat konsumen untuk "terbang". Akibatnya, ratusan penerbangan di sejumlah bandara dibatalkan. Bandara menjadi sepi. Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Kondisi tiket mahal sebenarnya sudah terjadi beberapa bulan belakangan. Di media sosial, keluhan pelanggan soal hal ini sudah lama berseliweran. Melihat harga tiket di aplikasi online memang bisa membikin kening berkerut. Dari pantauan Upperline, 13 Februari 2019, harga tiket rute Banda Aceh-Jakarta dengan sekali transit di Bandara Kualanamu dibanderol di harga 2,3 juta rupiah oleh Lion Air.

Ada juga tiket yang lebih murah yang dibesut oleh AirAsia dan Citilink, yaitu 1,7 juta rupiah. Namun pesawat harus transit di Kuala Lumpur dan Penang terlebih dahulu. Selisih harga yang lumayan untuk  tiket one way ini mendorong warga untuk berbondong-bondong membuat paspor demi mendapatkan tiket murah. Beda 1,2 juta rupiah untuk tiket return, lumayan bukan?

Kondisi yang berlarut-larut ini tak lepas dari perhatian Presiden Joko Widodo. Jokowi ikut angkat bicara. Menurutnya harga avtur adalah biang keladi dari membumbungnya harga tiket pesawat. Avtur yang dijual Pertamina diklaim lebih tinggi 30% dibandingkan bandara-bandara milik tetangga. 

“Kalau harganya sama dengan negara lain, nanti ada yang namanya daya saing, competitiveness. Kalau ini diteruskan pengaruhnya bisa ke harga tiket pesawat," ujar Jokowi, 11 Februari 2019.

Dalam laman setkab.go.id disebutkan Jokowi mendesak Pertamina untuk menyamakan harga avturnya dengan negara tetangga. Jika tidak, berarti pemerintah akan mengizinkan kompetitor lain untuk masuk ke bidang penjualan avtur sehingga terjadi kompetisi. 

Ditegur Presiden, Pertamina sendiri tak tinggal diam. Perseroan berencana untuk menurunkan harga avtur. Direktur Pemasaran Retail Pertamina Mas'ud Khamid menuturkan pihaknya tengah melakukan evaluasi terkait hal tersebut.

Sementara Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati memastikan penyesuaian harga avtur akan dilakukan segera.

"Ada Permen ESDM baru yang mengatur formula harga BBM dan Avtur. Berdasarkan regulasi tersebut, Pertamina sudah menurunkan harga BBM, dan diikuti penurunan harga avtur dalam waktu dekat,” kata Nicke.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan mengeluarkan Kepmen ESDM Nomor 17 K/10/MEM/2019 tentang Formula Harga Dasar dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Avtur yang Disalurkan melalui Depot Pengisian Pesawat Udara. Dalam aturan ini ditetapkan badan usaha hanya boleh mengambil margin maksimal 10% dari harga dasar.

Tapi benarkah avtur adalah biang keladi dari semua carut-marut ini? Valid kah jika dikatakan harga jual avtur Pertamina lebih mahal dari bandara-bandara di negara tetangga?

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menuturkan harga avtur Pertamina bukanlah yang paling tinggi di antara negara tetangga. Selisihnya pun tak sampai 30%. Harga avtur di Soekarno Hatta misalnya, dijual di angka 2,14 dolar AS per galon, beda lagi dengan Juanda yang berada di 2,32 dolar AS per galon. Sementara harga di Changi 2,06 dolar AS dan Malaysia 2,04 dolar AS. Namun harga avtur di Filipina dan Myanmar bahkan masing-masing mencapai 2,55 dolar AS dan 2,71 dolar AS. 

"Kalau dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia memang masih mahal Pertamina, mungkin itu karena masalah perbedaan management stock saja. Secara rata-rata, kesimpulan bahwa avtur Pertamina paling mahal adalah tidak benar," ujar Komaidi kepada Upperline, 13 Februari 2019.

Sementara pengamat aviasi Alvin Lee menegaskan avtur bukanlah komoditi yang disubsidi pemerintah, sehingga harganya mengikuti mekanisme pasar. Jadi tentunya harus ada landasan bagi Pertamina untuk menurunkan harga tanpa menyalahi aturan.

Selain itu, lanjut Alvin, avtur hanyalah salah satu komponen dalam menentukan harga tiket pesawat. Besarannya memang bisa mencapai 40% dari harga pesawat, tergantung dari jenis pesawat dan rute. Namun bukan berarti jika Pertamina bisa menurunkan harga avtur, maka tiket pesawat serta merta akan turun secara signifikan.

"Jika Pertamina turunkan harga avtur 10% maka dampaknya terhadap tiket hanya 4%. Padahal kenaikan harga tiket ini sudah mencapai puluhan persen. Pemerintah harus tau apa saja komponen biaya harga jual avtur di indonesia," tukas Alvin Lee kepada Upperline, 13 Februari 2019.

Komponen-komponen lain yang signifikan mempengaruhi harga tiket, kata Komaidi, adalah biaya operasional pesawat. Misalnya take off fee, landing fee, crew dan juga maintenance

Menurut Alvin, harga avtur menjadi mahal akibat banyaknya pajak dan biaya-biaya yang harus ditanggung Pertamina dalam menyediakan bahan bakar tersebut. Misalnya saja biaya sewa tanah yang harus dibayarkan perusahaan pelat merah migas itu kepada otoritas bandara untuk penyewaan tangki BBM. Belum lagi adanya throughput fee, retribusi yang dikenakan atas penggunaan infrastruktur bandara.

"Di Soekarno Hatta ada pipa untuk mengisi bahan bakar ke pesawat tanpa perlu mobil tangki. Karena lewat pipa, maka ada biaya. Masalahnya ada juga bandara-bandara yang tidak ada pipanya sehingga Pertamina harus menyiapkan mobil tangki sendiri, namun tetap harus bayar throughput fee," jelas Alvin.

 

 

Tak hanya itu, pengenaan Pajak Pertambangan Nilai (PPN) sebesar 10% terhadap avtur Pertamina juga dinilai berkontribusi dalam membuat biaya tiket domestik lebih mahal dibandingkan penerbangan luar negeri. Pasalnya penerapan PPN ini tidak berlaku untuk maskapai asing yang mengisi bahan bakar di Indonesia karena adanya tax treaty, jelas Alvin.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sendiri sebelumnya telah bersedia untuk mengkaji besaran PPN atas avtur agar Pertamina dapat berkompetisi dengan negara-negara lain.

Terkait dengan tudingan avtur adalah monopoli Pertamina, Komaidi menjelaskan bahwa berdasarkan Peraturan Badan Pengatur Hilir No 13 Tahun 2008, bisnis bahan bakar pesawat sudah terbuka untuk umum. Monopoli Pertamina dalam urusan BBM otomatis sudah berakhir dengan sendirinya sejak aturan tersebut diundangkan.

Hal senada juga diungkapkan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto. Menurutnya pintu bisnis bahan bakar pesawat terbuka lebar untuk para pemain swasta. 

Alvin menilai, jika pemerintah ingin serius untuk menurunkan harga tiket pesawat, maka kebijakan PPN dan pembebanan biaya-biaya pengadaan avtur harus ditinjau ulang. Selain itu pemerintah dari lintas kementerian juga harus turun rembuk mengatasi sejumlah masalah yang berpengaruh pada harga tiket pesawat.

"Misalnya kepadatan lalu lintas di Soekarno Hatta. Antri untuk take off  saja 45 menit, harus bakar avtur berapa liter. Belum lagi kalau pas mau mendarat di bandara-bandara yang penuh, juga butuh waktu. Ini kan masuk perhitungan biaya tiket," ujar Alvin.

Selain itu, pemerintah juga harus melihat apakah manajemen maskapai di Indonesia sudah efisien atau belum. Pasalnya Alvin melihat banyak maskapai yang memesan banyak pesawat, padahal untuk mencetak profit, sebuah burung besi itu setidaknya harus terbang 10 kali dalam sehari. Jika tidak, ujung-ujungnya akan dibebankan ke harga tiket. 

Sementara Komaidi menutup perbincangan dengan menegaskan bahwa masalah avtur bukan masalah utama dalam industri penerbangan saat ini.

"Problem yang lebih kompleks itu adalah masalah bagasi ketimbang avtur. Ini lebih bersentuhan dengan lapangan dan masyarakat. Bayangkan, banyak oleh-oleh yang harus ditinggal di bandara karena harga bagasinya lebih mahal dari harga oleh-oleh itu sendiri. Sementara kalau avtur itu sebenarnya masalah dapurnya maskapai," pungkas Komaidi.

Baca juga: Nasib Industri Aviasi RI Pasca Garuda Kelola Sriwijaya