Adhi Karya Klaim Telah Rampungkan 64% Proyek LRT Jabodebek Tahap I

Adhi Karya Klaim Telah Rampungkan 64% Proyek LRT Jabodebek Tahap I
PT Adhi Karya Tbk (ADHI) telah merampungkan pembangunan sekitar 64% prasarana kereta api ringan (light rail transit/LRT) Jabodebek tahap I. /Sumber: Adhi Karya

PT Adhi Karya Tbk. mengklaim telah merampungkan pembangunan sekitar 64% prasarana kereta api ringan (light rail transit/LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek) tahap I yang nilai pengerjaannya mencapai Rp22,8 triliun. LRT ini diperkirakan akan efektif beroperasi pada 2021.

Sekretaris Perusahaan Adhi Karya Ki Syahgolang Permata mengatakan, progres sebesar 64% itu tercatat per 5 Juli 2019 dengan rincian lintas pelayanan 1, yakni Cawang-Cibubur mencapai 83,7%, dan lintas pelayanan 2 Cawang-Kuningan-Dukuh Atas mencapai 53%.

Baca juga: Begini Cara LRT Jakarta Edukasi Budaya Baru Bertransportasi Publik

“Sedangkan pada lintas pelayanan 3, untuk Cawang-Bekasi Timur pekerjaannya telah mencapai 57,9%,” kata dia dalam keterangan resminya, Minggu (14/7).

Sebelumnya, Ki Syahgolang mengatakan, Adhi Karya telah menerima realisasi pembayaran ketiga untuk LRT Jabodebek Tahap I dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) pada Juni 2019. Rinicannya, perseroan menerima pembayaran untuk progres pekerjaan dari Juli 2018 sampai September 2018 senilai Rp1,2 triliun.

Kemudian, perseroan juga telah menerima pembayaran pertama untuk progres pekerjaan September 2015-September 2017 senilai Rp3,4 triliun. Selanjutnya, pembayaran kedua untuk progres Oktober 2017 sampai Juni 2018 senilai Rp2,5 triliun. “Sehingga dari total kontrak senilai Rp20,2 triliun di luar pajak, perseroan telah menerima pembayaran senilai Rp7,1 triliun di luar pajak,” paparnya.

Sementara itu, Adhi Karya mencatat perolehan kontrak baru sebesar Rp5,4 triliun. Realisasi perolehan kontrak baru di Juni 2019 didominasi oleh proyek pembangunan rumah susun di Tangerang senilai Rp 206 miliar dan pembangunan gedung Otoritas Jasa Keuangan di Solo dan Yogyakarta senilai Rp120,1 miliar.

Kontribusi per lini bisnis pada perolehan kontrak baru Juni 2019 Adhi Karya meliputi lini bisnis konstruksi dan energi sebesar 81,6%, properti sebesar 18,1% dan sisanya merupakan lini bisnis lainnya.

Sedangkan pada tipe pekerjaan, kata Ki Syahgolang, perolehan kontrak baru terdiri dari proyek gedung sebesar 71,5%, jalan dan jembatan sebesar 4,4%, serta proyek infrastruktur lainnya sebesar 24,1%. Berdasarkan segmentasi sumber dana, realisasi kontrak baru dari pemerintah sebesar 18,8%, BUMN sebesar 72,9%, sementara swasta sebesar 8,3%.

Juni kemarin, Adhi Karya juga telah melaksanakan penawaran umum berkelanjutan (PUB) II tahap II senilai Rp 1,02 triliun. Surat utang tersebut ditawarkan dalam dua seri dengan kisaran kupon 9,25%-9,75%.

Rinciannya, seri A ditawarkan dengan jumlah Rp 556 miliar yang memiliki bunga tetap 9,25% per tahun dan berjangka waktu tiga tahun. Sementara seri B ditawarkan dengan jumlah Rp 473,5 miliar yang memiliki kupon tetap 9,75% dan bertenor lima tahun.

Adhi Karya bakal menggunakan hasil emisi obligasi untuk keperluan modal kerja. Adapun, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memberikan peringkat single A minus untuk surat utang ini. Peringkat tersebut berlaku untuk periode 10 April 2019-1 April 2020.

Sebagai informasi, PUB II tahap II Adhi Karya ini merupakan bagian dari PUB II yang dirilis pada 2017 dengan total plafon hingga Rp 5 triliun. Sebelumnya, perseroan telah menerbitkan PUB I tahap I senilai Rp 2,99 triliun.

Tahun ini, Adhi Karya fokus mengikuti tender konstruksi jalur rel kereta api di sejumlah kota besar. Salah satunya adalah megaproyek kereta semi cepat Jakarta-Surabaya dengan nilai proyek yng ditaksir mencapai Rp 120 triliun. Direktur Utama Adhi Karya Budi Harto sebelumnya mengatakan, perseroan menggandeng investor Jepang dalam mengikuti tender proyek jalur kereta semi cepat sepanjang 600 kilometer tersebut. Kepemilikan saham dalam perusahaan patungan (joint venture/JV) tersebut masing-masing akan sebanyak 50%.

Sementara itu, analis Danareksa Sekuritas Maria Renata sebelumnya menyebutkan bahwa adanya dukungan pemerintah untuk menuntaskan pembebasan lahan LRT Jabodetabek Fase I akhir bulan Juli 2019 bakal menjadi sentimen positif terhadap Adhi Karya. Keputusan pemerintah tersebut menjadi jaminan bagi perseroan untuk menuntaskan proyek tersebut sesuai dengan target.

Pembebasan lahan LRT Jabodetabek Fase I telah mencapai 70% dan ditargetkan tuntas akhir bulan ini. Sedangkan pembebasan lahan LRT II ditargetkan mulai 2021 usai pembangunan tahap I. Adhi Karya juga tercatat sebagai kontraktor pembangunan LRT tahap II senilai Rp 15,4 triliun atau setara dengan 70% dari nilai pengerjaan LRT tahap I. 

LRT Jakarta-Bogor-Depok- Bekasi (Jabodebek) akan melintasi 17 stasiun. Seluruh stasiun itu kini dalam tahap pembangunan.  Ketujuh belas stasiun itu akan dibangun di tiga lintasan LRT Jabodebek yakni lintasan Cibubur-Cawang, lintasan Bekasi Timur-Cawang, dan lintasan Cawang-Kuningan-Dukuh Atas.

Untuk lebih lengkapnya, berikut rincian stasiun LRT Jabodebek yang akan dibangun: Lintasan Cibubur-Cawang  meliputi 1. Stasiun Harja Mukti, 2. Stasiun Ciracas, 3. Stasiun Kampung Rambutan, 4. Stasiun Taman Mini 5.

Stasiun Cawang Lintasan Bekasi Timur-Cawang meliputi 1. Stasiun Jati Bening Baru, 2. Stasiun Cikunir 1, 3. Stasiun Cikunir 2, 4. Stasiun Bekasi Barat, 5. Stasiun Jati Mulya.  

Lintasan Cawang-Dukuh Atas meliputi 1. Stasiun Ciliwung, 2. Stasiun Cikoko, 3. Stasiun Pancoran, 4. Stasiun Kuningan, 5. Stasiun Rasuna Said, 6. Stasiun Setiabudi, 7. Stasiun Dukuh Atas.

Baca juga: Adhi Karya Peroleh Kontrak Baru Rp4,6 Triliun