Adaptasi Korporasi di Tengah Pandemi

Adaptasi Korporasi di Tengah Pandemi
Toko Lin Qing Xuan di China. Sumber: lqxshop.com

Ketika perusahaan kosmetik China Lin Qingxuan terpaksa menutup 40 persen dari tokonya, termasuk semua tokonya di Wuhan, penjualan mereka merosot hingga 90 persen. Namun perusahaan tersebut tidak diam saja. Mereka kemudian mengalihfungsikan para beauty adviser mereka menjadi para influencer online, yang menggunakan platform digital seperti WeChat untuk berkomunikasi dengan konsumen dan calon konsumen sehingga terjadilah penjualan secara online. 

Pada hari Valentine yang lalu, Lin Qingxuan meluncurkan event belanja online livestream berskala besar yang menampilkan lebih dari 100 beauty adviser. Pada event tersebut satu adviser saja berhasil menjual dalam dua jam apa yang terjual di empat toko retail. Perusahaan tersebut kemudian menikmati penjualan di bulan Februari yang meningkat 120 persen dibanding tahun lalu.

Perusahaan sepatu Nike juga dipaksa oleh situasi pandemi untuk menutup lebih dari 5.000 dari 7.000 tokonya yang ada di China. Bisnis offline mereka pun terhenti, namun ternyata operasi secara online tetap berjalan. Staff Nike secara aktif berinteraksi dengan konsumen di China secara online dengan memberikan latihan senam melalui kanal-kanal digital. Sejak Desember 2019 hingga akhir Februari 2020, Nike melaporkan lebih dari 35% pertumbuhan penjualan online di China dibanding periode yang sama sebelumnya. Ketika toko-toko offline-nya sudah boleh dibuka kembali di China, penjualan online Nike tidak turun, dan kini mereka pun bersiap-siap mengulang strategi yang sama ketika virus Corona menyebar ke wilayah-wilayah lain di luar China.

Ketika pandemi merebak, salah satu produk yang kemudian menjadi langka adalah hand sanitizer. Maka beberapa perusahaan seperti LVMH (pembuat produk mewah Louis Vuitton), Pernod Ricard (produsen minuman beralkohol), dan Skyrora juga memproduksi hand sanitizer. Langkah ini juga dilakukan salah satu korporasi nasional yaitu produsen body lotion merek Nivea, PT Beiersdorf Indonesia.

Langkah pivot dengan mengubah produk atau layanan juga dilakukan oleh industri perhotelan yang sangat terpukul oleh pandemi ini. Jaringan hotel seperti Best Western dan Hilton, menyediakan kamar untuk staf rumah sakit dan pasien Covid-19 di Inggris. Hal yang sama juga dilakukan oleh group Lippo di tanah air, yang menyewakan salah satu hotel dalam group mereka untuk dijadikan tempat karantina.

Lain lagi ceritanya untuk perusahaan China yang membuat gelang untuk fitness bermerek Xiaomi, Huami. Perusahaan ini mendapatkan ide produk baru di tengah pandemi. Dari penelusuran data 115.000 user mereka di Wuhan dan sekitarnya dari Juli 2017 hingga Februari 2020, Huami menemukan anomali pada data detak jantung saat tidur pada bulan Januari. Pola yang sama juga ditemukan pada kota-kota lain di China ketika telah tersebar virus Corona. Karena itu Huami membuat sebuah produk yang bisa membuat peringatan dini apabila adanya anomali serupa di masa depan untuk peringatan kemungkinan pandemi.

Di tanah air, di tengah ketidakpastian akan kapan berakhirnya pandemi ini, korporasi Indonesia juga tidak diam saja menunggu. Setelah banyak masyarakat dihimbau untuk tinggal di rumah, beraktivitas di rumah saja, maka korporasi pun harus kreatif memikirkan cara-cara menjangkau konsumennya yang berada di rumah saja. 

BNI misalnya. Bank plat merah ini mengajak para mitra binaannya yang tergabung dalam Rumah Kreatif BUMN (RKB) untuk memasarkan produk-produk mereka melalui Program Belanja Produk Lokal dari Rumah Saja

BTN atau PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk yang merupakan penyedia program pembiayaan hunian baru-baru ini meluncurkan KPR From Home. Melalui KPR From Home seluruh proses kredit bisa dilakukan secara online seperti pengajuan berkas serta pembayaran booking fee. Nasabah BTN juga bisa melakukan tracking posisi berkas pengajuan secara online. 

Untuk berkomunikasi dengan target audience sekaligus berdonasi untuk membantu korban Covid-19, beberapa hari yang lalu PT Pegadaian (Persero) menyelenggarakan konser amal yang disiarkan secara live melalui Youtube Channel-nya. Dalam konser amal ini, semakin banyak view dan subscriber, maka semakin banyak yang akan didonasikan Pegadaian untuk membantu korban Covid-19. 

Berbagai contoh di atas menunjukkan bahwa korporasi harus lincah beradaptasi dalam berbagai kondisi. Bahkan di dalam masa pandemi, perusahaan terus mencari celah untuk peluang bisnis baru. Selain itu, di dalam kondisi di mana mobilitas dan pertemuan semakin terbatas, kepiawaian memanfaatkan kanal-kanal digital kemudian akan menjadi pembeda antara perusahaan yang berhasil dan perusahaan yang gagal beradaptasi pada kondisi saat ini.

Perusahaan dituntut untuk pandai berkomunikasi dengan audiens-nya melalui kanal-kanal digital, dan kreatif menggunakan kanal-kanal tersebut untuk meraih perhatian dan simpati dari audiens, yang kemudian akan dikonversi ke angka penjualan (secara online). 

Baca juga: Strategi Content Marketing Korporasi Besar