Achmad Fachrodji, Bapak Pantun BUMN

Achmad Fachrodji, Bapak Pantun BUMN
Achmad Fachrodji, Direktur Utama Balai Pustaka. Sumber: Instagram

Di masa Work from Home (WFH) dan Stay at Home ini sudah menjadi kelaziman baru bagi kita untuk mengikuti acara-acara secara virtual melalui platform online seperti Instagram Live, Zoom, Youtube Live, dan lain-lain. Namun suatu hari ada undangan acara yang agak berbeda, yaitu undangan acara Live Webinar yang disampaikan oleh salah seorang direktur utama BUMN. Yang membuat acara ini lain daripada yang lain adalah karena sang dirut tidak akan membicarakan bisnis tetapi akan mengajarkan tips “10 menit bisa berpantun.” 

Ialah Achmad Fachrodji, direktur utama PT Balai Pustaka (Persero) yang di kalangan BUMN dikenal sebagai “Bapak Pantun.” Mengapa penting untuk berpantun? “Pantun itu juga penting bagi kalangan milenial, ini juga bisa dipakai untuk “nembak” pasangannya,” seloroh Achmad Fachrodji dalam acara Live Webinar dari Instagram Balai Pustaka, Kamis, 14 Mei 2020.

Tampak bugar walaupun sedang berpuasa, Achmad Fachrodji yang telah berusia 60 tahun itu pun ditanya apa rahasia awet mudanya. Seperti yang bisa ditebak, jawaban penulis buku Semakin Santun Karena Berpantun itu, “Kuncinya: berpantun.”

Dari Surabaya menuju Madura

Membawa kurma dan buah markisa

Badan Usaha Milik Negara

Maju bersama untuk Indonesia

Pantun di atas merupakan salah satu pantun yang pernah ditulisnya untuk BUMN, yang konon pernah diwajibkan untuk dihafalkan para insan BUMN.

Di tengah masa pandemi Covid-19 ini Fachrodji juga menulis sebuah pantun yang dipersembahkan kepada para dokter, perawat, para relawan dan tenaga medis lainnya yang berjuang di garis depan melawan virus Corona. Pantun itu diberi judul Pahlawan Sejati.

Seindah amarilis si bunga dahlia

Dipadu melati menghiasi istana

Tenaga medis sangatlah mulia

Pahlawan sejati melawan corona

 

(Direktur Utama Balai Pustaka Achmad Fachrodji dalam acara Live Webinar 10 Menit Bisa Berpantun)

 

Fachrodji mengatakan, bersama Malaysia, Indonesia mengusung pantun menjadi salah satu warisan dunia (world heritage). Pantun adalah jenis puisi lama yang tiap baitnya terdiri dari empat baris yang terdiri dari dua baris sampiran dan dua baris pesan.

Kepandaiannya membuat pantun telah dikenal di lingkungan Balai Pustaka maupun kalangan milenial korporasi-korporasi yang lain, sehingga pada Live Webinar kemarin, lebih dari 70 peserta meramaikan acara tersebut dan mereka juga berpartisipasi dalam lomba membuat pantun yang diadakan pada acara tersebut.

Fachrodji lahir di Brebes, 16 Oktober 1960. Doktor lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini pernah menjabat Direktur Komersial sebelum menjabat Direktur Utama Balai Pustaka. Sebelum bergabung di BUMN bidang penerbitan ini, Fachrodji sudah berpengalaman memimpin perusahaan baik BUMN maupun swasta. Ia pernah menjabat Direktur Produksi PT Inhutani I (Persero) pada tahun 2001 hingga 2005, Direktur Pemasaran dan Industri Perum Perhutani tahun 2005 hingga 2010, dan Direktur SDM dan Umum Perum Perhutani tahun 2011 hingga 2014. 

Tidak memiliki pengalaman di bidang penerbitan tak lantas menyurutkan Fachrodji untuk menerima penugasan di perusahaan penerbit tertua di Indonesia tersebut. Selama memimpin Balai Pustaka, pria yang mencintai dunia sastra dan budaya Nusantara ini telah berhasil melakukan beberapa transformasi yang mengubah wajah perusahaan berusia 103 tahun tersebut. Gebrakan Fachrodji di Balai Pustaka antara lain membangun Kafe Sastra dan program 1.000 taman bacaan. 

 

Profil Dr Ir Achmad Fachrodji

 

Lahir: Brebes, 16 Oktober 1960

Riwayat Pendidikan

2007 – 2010 Doctor of Business Management, Marketing, Institut Pertanian Bogor (IPB)

Riwayat Pekerjaan

Direktur Utama, PT Balai Pustaka (Persero)

Direktur Komersial, PT Balai Pustaka (Persero)

Vice President, Kuala Group

Komisaris, Jasindo Sri Sejahtera

Dosen Paska Sarjana, Universitas Mercu Buana

Direktur SDM dan Umum, Perum Perhutani

Direktur Pemasaran dan Industri, Perum Perhutani

Komisaris, PT Palawi 

Direktur Produksi PT Inhutani I

 

Baca juga: Tak Ingin Ketinggalan Jaman, Balai Pustaka Serius Garap Konten Digital