3 BUMN  Dapat Kontrak Bangun Fasum dan Fasos Sementara Dampak Gempa di NTB

3 BUMN  Dapat Kontrak Bangun Fasum dan Fasos Sementara Dampak Gempa di NTB
Rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan fasilitas publik serta rumah masyarakat di sejumlah daerah terdampak gempa di Lombok. (Foto: PUPR)

Tiga Badan Usaha Milik Negara bidang karya, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Brantas Abipraya, dan PT Nindya Karya (Persero) mendapatkan proyek pekerjaan bangunan sementara fasilitas umum dan sosial Pascabencana Gempa Bumi di Nusa Tenggara Barat.

Nilai kontrak yang diberikan oleh pemerintah pada tiga BUMN ini, 1,1 triliun rupiah yang ditargetkan selesai pada Desember 2019, namun diupayakan dapat selesai lebih awal pada Juli 2019. 

Direktur Bina Penataan Bangunan Iwan Suprijanto, menjelaskan kontrak ini berbeda dengan kontrak umumnya di mana pekerjaannya dilakukan setelah penandatanganan kontrak. 

“Sesuai dengan peraturan LKPP No.13 tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Dalam Penanganan Keadaan Darurat dapat dilakukan pekerjaan terlebih dahulu baru penandatanganan kontrak. Kontrak ini sebagai dasar pembayaran bukan pelaksanaan,” katanya dalam siaran pers, Jumat, 12 Desember 2018. 

Pasca bencana gempa, terdapat 1.317 bangunan gedung yang rusak. Setelah dilakukan verifikasi, 545 unit sarana prasarana diperbaiki oleh Kementerian PUPR dengan 267 unit di antaranya dengan penanganan bangunan sementara.

Ia menegaskan, dengan adanya kontrak ini, perbaikan Fasos dan Fasum akan dilanjutkan hingga bangunan permanen. "Fasilitas yang ditangani yakni fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas keagamaan, dan fasilitas penunjang perekonomian," katanya. 

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut total kerugian bencana gempa Lombok mencapai 12,15 triliun rupiah. Angka itu mencakup kerusakan bangunan sebesar 10,15 triliun dan kerugian ekonomi sebesar 2 triliun.