2017, Sebanyak 143 BUMN Kumpulkan Keuntungan Sebesar Rp173 Triliun

2017, Sebanyak 143 BUMN Kumpulkan Keuntungan Sebesar Rp173 Triliun

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencatat di sepanjang 2017, konsolidasi dari 143 perusahaan BUMN telah mengumpulkan keuntungan sebesar Rp173 triliun. Raihan tersebut mengalami kenaikan lebih dari 10% dari tahun sebelumnya.

Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Menteri BUMN Rini M. Soermarno, dalam keterangannya yang dilansir Kumparan.com, Minggu (25/3/2018). Rini mengaku bangga dengan keberhasilan BUMN-BUMN dalam meraup keuntungan di 2017. “Angka ini naik lebih dari 10% dibandingkan tahun sebelumnya,” katanya.

Rini menambahkan, peningkatan kinerja BUMN tak hanya terlihat dari jumlah keuntungan, namun juga berkurangnya perusahaan rugi di tahun 2017 yang sebesar 50% dibandingkan tahun sebelumnya.

“Di tahun 2016 ada 24 perusahaan yang rugi, sekarang sudah tinggal 12. Tahun ini saya harap hilang semuanya (perusahaan rugi),” harapnya.

Beberapa BUMN yang berhasil meraih keuntungan di antaranya dari sektor perbankan, seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang mencatatkan perolehan laba bersih Rp20,6 triliun hingga akhir 2017 atau meningkat 49,5% secara year on year (yoy). Dari sektor konstruksi di antaranya PT Adhi Karya (Persero) Tbk yang mencetak laba Rp515,4 miliar dibandingkan 2016 sebesar Rp313,4 miliar.

Sementara itu PT Hotel Indonesia Natour (Persero) atau HIN, berhasil keluar dari daftar BUMN yang mengalami kerugian, walaupun hanya membukukan laba sebesar Rp9 juta di tahun 2017.

Dalam keterangannya yang dikutip Tempo.co, Minggu (25/3/2018), Rini menyoroti beberapa BUMN yang masih dalam tekanan keuangan, seperti PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, yang perlu berbenah agar kinerja operasi lebih bagus lagi.

Khusus untuk Garuda, kata Rini, kerugian terjadi karena perusahaan ini terjebak dalam perang tarif dan rute penerbangan internasional yang tidak efisien. Sedangkan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk kerugiannya membengkak antara lain akibat adanya dumping baja dari Cina.

Untuk itu, lanjut Rini, BUMN yang merugi harus melakukan efisiensi, termasuk menjalin sinergi antar-perusahaan. BUMN yang memiliki bisnis atau usaha yang sama juga diarahkan digabung.(DD)